Melepas Rindu di Lapangan Ombilin: Kisah Allstars Duri Pulang Kampung Lewat Sepak Bola

27 Juni 2026 | sawahlunto, koni, olahraga, prestasi, juara, sumbar

Gambar Berita

ADA aroma magis yang menguap dari rumput Lapangan Ombilin pada Sabtu sore, 27 Juni 2026. Di bawah langit Kota Arang yang perlahan meneduh, puluhan pria paruh baya dengan jersi sepak bola tampak saling berpelukan erat. Jabat tangan mereka menyisakan tarikan napas panjang—sejenis kelegaan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sedang menuntaskan dendam kerinduan pada tanah kelahiran.


​Sore itu, Lapangan Ombilin bukan sekadar hamparan rumput hijau tempat si kulit bundar bergulir. Ia menjelma menjadi mesin waktu. Di sinilah rombongan Allstars Duri Provinsi Riau—yang sebagian besar merupakan anak rantau asal Sawahlunto—pulang untuk menjemput kembali memori masa kecil mereka yang sempat tertinggal. Lawannya pun istimewa: jajaran pengurus PSSI Kota Sawahlunto beserta para pegiat sepak bola lokal.


​Bagi anak rantau, pulang kampung selalu punya banyak cara. Ada yang pulang saat merayakan Idulfitri, ada yang pulang demi mencicipi kembali sepiring kuliner masa kecil. Namun bagi Allstars Duri, kepulangan kali ini memiliki ritme yang berbeda. Mereka pulang membawa sepatu bola, jersi kebanggaan, dan sisa-sisa stamina masa muda untuk dipertaruhkan di atas lapangan yang dulu membentuk karakter mereka sebelum garis nasib membawa mereka mengadu peruntungan ke Negeri Lancang Kuning.


​Ketika peluit pertama ditiupkan oleh sang pengadil lapangan, aura nostalgia itu mendadak lumer menjadi duel yang sengit. Lapangan Ombilin yang legendaris menyaksikan bagaimana para veteran ini menolak uzur. Jual beli serangan terjadi dengan tensi tinggi namun bersih. PSSI Sawahlunto yang tampil taktis di hadapan publik sendiri, mendapat perlawanan luar biasa dari tim tamu yang bermain dengan motivasi berlipat ganda: bermain demi menghibur tanah leluhur.


​Tepuk tangan penonton pecah setiap kali ada gocekan indah atau penyelamatan gemilang. Pertandingan berjalan dengan tempo cepat hingga peluit panjang akhirnya berbunyi, mengunci angka sama kuat 1-1 di papan skor. Sebuah akhir yang adil, yang seolah menegaskan bahwa sore itu memang tidak dirancang untuk mencari siapa yang paling digdaya.


​Usai laga, gairah kompetisi itu menguap seketika, berganti haru yang menyeruak di pinggir lapangan. Marco, pimpinan rombongan Allstars Duri yang merupakan putra asli Kenagarian Kolok, berdiri dengan mata berbinar. Baginya, pelayanan dan sambutan hangat dari masyarakat serta pengurus PSSI Sawahlunto hari itu terasa begitu mewah di hati para perantau.


​"Kami mengucapkan terimakasih atas pelayanan oleh PSSI Sawahlunto, semoga silaturahmi ini terus berlanjut dikemudian hari," ujar Marco, suaranya agak bergetar menahan luapan emosi kebahagiaan.


​Gayung pun bersambut hangat. PSSI Kota Sawahlunto memandang kunjungan ini bukan sekadar agenda olahraga kalender tahunan, melainkan sebuah kehormatan besar karena bisa mengumpulkan kembali darah daging Sawahlunto yang lama berkelana. Ketua PSSI Sawahlunto, Ronny Eka Putra, melalui Sekretaris Umum Doni Ramadona, menyapa para perantau dengan kalimat-kalimat yang sarat akan kerendahan hati sekaligus sebuah janji setia untuk merawat hubungan persaudaraan ini.


​"Selamat datang dan inilah adanya lapangan sepak bola Sawahlunto dan kami juga mengharapkan silaturahmi berjalan dengan baik serta nantinya kami juga akan bertandang ke Duri," tutur Doni Ramadona dengan senyum merekah.


​Matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Sawahlunto, menyisakan lampu-lampu kota yang mulai menyala di sekeliling Lapangan Ombilin. Sesi foto bersama diakhiri dengan tawa lepas yang menggema. Langkah kaki para pemain Allstars Duri mungkin akan segera kembali membawa mereka menyeberangi perbatasan menuju Riau, kembali ke rutinitas hidup di perantauan. Namun, batin mereka kini telah diikat kembali oleh jala gawang Ombilin. Sebuah kepulangan yang purna, yang dirajut dengan indah lewat sepotong drama sepak bola.





Berita lainnya