23 Juni 2026 | sawahlunto, koni, prestasi, olahraga
KOTA Sawahlunto yang biasanya tenang dalam kepungan bukit-bukit batu bara seketika berubah riuh oleh gema teriakan penuh tenaga. Sejak Senin, 22 Juni 2026, kota bersejarah warisan dunia UNESCO di Sumatera Barat ini resmi bersolek, bersiap menyambut kedatangan ratusan atlet kempo—atau yang karib disapa kenshi—dari berbagai kabupaten dan kota di seluruh penjuru pulau Swarnadwipa.
Mereka datang bukan sekadar membawa ambisi, melainkan sebuah misi besar untuk memperebutkan Piala Ketua Umum Pengprov Perkemi Sumatera Barat Antar Kota dan Kabupaten se-Sumatera. Kejuaraan ini terasa begitu prestisius dan emosional karena saat ini Pengprov Perkemi Sumatera Barat dipimpin oleh putra asli Kota Sawahlunto, Bagas Panyusunan Nasution, yang juga merupakan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat sekaligus putra dari Ketua Umum KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita.
Bagi Kota Arang, perhelatan ini adalah panggung pembuktian kesiapan sebagai tuan rumah yang ramah, sekaligus saksi bisu dari geliat pembinaan bakat-bakat terpendam bela diri Shorinji Kempo di tingkat regional.
Denyut penyambutan di jantung warisan budaya pun langsung terasa begitu menghentak sejak hari pertama. Langkah awal perjuangan para kontingen dimulai bukan dari atas matras, melainkan dari ruang-ruang administratif yang sibuk. Di bawah atap Bengkel Utama Silo yang ikonik, aroma sejarah kejayaan tambang batu bara berpadu erat dengan atmosfer kompetisi yang mulai memanas sejak pagi hari.
Wajah-wajah serius para ofisial dari berbagai daerah tampak memadati area registrasi ulang untuk memastikan seluruh administrasi atlet mereka benar-benar bersih tanpa celah. Sembari menunggu proses verifikasi selesai, para kenshi yang baru tiba tampak terpukau oleh lanskap historis Sawahlunto. Mereka menjadikan momen kedatangan ini sebagai perpaduan unik antara ziarah sejarah dan kobaran semangat olahraga yang siap meledak di hari-hari berikutnya.
Memasuki hari kedua pada Selasa, 23 Juni 2026, suasana Kota Tua Sawahlunto mendadak kian hidup dengan kehadiran para kenshi se-Sumatera yang melakukan jogging pagi demi menjaga kebugaran tubuh. Langkah kaki mereka yang berderap di antara bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial seolah membangunkan kota dari tidurnya.
Menjelang siang, aktivitas bergeser ke Sekretariat KONI Sawahlunto yang dipenuhi para kenshi untuk melakukan prosesi timbang badan guna memastikan keabsahan kelas tanding. Tidak hanya bagi para atlet, hari ini juga menjadi momen krusial bagi para pengadil lapangan melalui agenda refreshing wasit demi menyamakan persepsi, yang kemudian dilanjutkan dengan technical meeting di Khas Ombilin Hotel untuk menyusun strategi pertandingan.
Sebagai bentuk penghormatan dan keramahan khas Ranah Minang, rangkaian agenda hari ini ditutup dengan jamuan makan malam bersama Wali Kota Riyanda Putra di rumah dinas, yang dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing kontingen dalam suasana yang penuh kehangatan dan kebersamaan.
Segala persiapan matang dan dinamika di awal pekan ini merupakan hulu dari perjuangan sesungguhnya yang akan tersaji mulai Rabu, 24 Juni hingga Sabtu, 27 Juni 2026. Selama empat hari ke depan, gedung pertandingan Bengkel Utama Silo akan menjadi saksi bisu ketatnya persaingan, baik dalam ketegasan jurus nomor embu (kerapian teknik) maupun sengitnya kontak fisik di nomor randori (tarung), hingga akhirnya kompetisi resmi ditutup.
Kehadiran ratusan kenshi yang telah meramaikan Kota Arang sejak awal pekan ini bukan sekadar tentang medali dan piala. Kejuaraan ini berjalan beriringan dengan visi besar "Kota Event" yang digagas oleh Pemerintah Kota Sawahlunto. Melalui denyut nadi olahraga bela diri ini, Sawahlunto berhasil memikat pariwisata sekaligus memutar roda perekonomian lokal secara nyata.
Hotel, homestay, kuliner, hingga pelaku UMKM kini ikut merasakan dampak langsung dari ramainya kunjungan, membuktikan bahwa warisan dunia UNESCO ini mampu melestarikan sejarah sekaligus terus hidup dan menghidupi masyarakatnya melalui gelaran yang prestisius.